“Dalam satu detik
yang sama, jutaan bayi lahir tanpa diberikan pilihan apapun.
Diberkahi hal yang
sama dan urat nadi yang dialiri mantra yang sama
Tangisan yang
melengking menyeruak, menyapa dunia untuk pertama kalinya.
Mengguratkan senyum,
memudarkan lara dalam kalbu.
Bagimana kamu bisa
lupa?”
Nyaman.
Angin musim panas lewat hilir mudik, dedaunan yang jatuh berkejaran,
pepohonan bergoyang seperti ada pesta dansa dadakan ditempat ini. Kurebahkan badan mungil diatas
padang ilalang yang mungkin akan protes padaku, matahari begitu hangat,
sepintas kupejamkan mata, bau matahari, kemudian seutas senyum terlukis di
bibirku. Beberapa detik kemudian, kurasakan teduh diatas kepala, kupicingkan
mata enggan, ada bocah laki – laki disana, membungkuk menatapku heran.
“Hei.” Anak laki – laki itu
menatapku polos, matanya lebar, bulat dan berbinar, bibirnya yang nggak
terkatup rasanya hampir saja liur anak itu terjun bebas ke pipiku.
“Tanahnya empuk?” tanya
anak itu sambil tersenyum, aku meringis mendengar ucapannya, dua detik kemudian
anak itu merebahkan dirinya kasar disebelahku sambil tertawa – tawa girang. Matanya
berbinar, walaupun kulit dan rambutnya gelap, bagiku dia begitu menyilaukan.
“Kamu siapa?” tanyaku sambil memiringkan kepala
Anak itu berhenti tertawa,
dia terduduk, menatapku sambil tersenyum, lalu mengulurkan tangan. “Aku
Matahari.” Ucapnya.
Sesaat angin datang menerpa kami dengan sedikit keras hingga rok yang
kukenakan hampir tersingkap,anak itu tersenyum, rambut hitam ikalnya menari
dimainkan angin yang nampaknya mengikuti irama waltz. Saat itu aku merasakan, aku melihat matahari sedang jatuh ke
tanah, mungkin harusnya saat ini aku mengucapkan harapan.
****
Semua manusia dilahirkan
dengan garis tangan yang berbeda, dengan penempatan yang berbeda, rasanya
seperti sedang makan roti tawar dengan berbagai macam varian rasa selai,
mungkin aku akan ambil selai strawberry
alih – alih marshmallow, aku enggak
akan ambil rasa cokelat karena itu pahit, aku tidak suka pahit. Tapi kulit
matahari cokelat, namun kurasa dia enggak pahit, mungkin karena namanya
matahari jadi dia terbakar cepat dariku.
Ngomong – ngomong namaku
Hana, sang pencipta bilang artinya bunga, kusuma,sekar, tapi aku enggak peduli
itu, yang kutahu namaku Hana dan aku keberatan dipanggil dengan nama sinonim. Kali
ini aku sedang membuntuti matahari, mungkin aku seperti bunga mungil yang membuntuti
matahari agar proses fotosintesisku lancar, tapi aku nggak menghasilkan zat
tepung karena aku bahkan enggak berfotosintesis – aku mengikutinya bukan karena
itu, namun karena matahari hampir kehilangan cahayanya.
Bocah itu kini sudah
menjadi laki – laki yang hampir dewasa, dia mendengus berkali – kali sampai
terdengar seperti sapi, tubuhnya sehat, masih saja cokelat – tapi mungkin
enggak pahit kalo kujilat – tingginya seperti menara eiffel karena aku masih
saja pendek dan memang enggak akan bisa tinggi, bedanya, kini rambut ikalnya
menyembunyikan mata tajam seperti ujung tombak. Sinar hangat yang dulu
terpancar,kini hilang seperti bumi yang berotasi jadi malam hari,aku
memicingkan mata sambil mendecakkan lidah sebal.
Tubuhnya sehat, tapi lebam
menguar, pada batinnya, aku enggak suka, matahari itu bersinar dan hangat, kalo
mataharinya lebam bagiku itu jadi seperti telur dadar goreng yang gosong karena
kekurangan minyak.
Kusejajarkan langkah
dengan matahari, kuraih tangannya yang
gontai dengan tiba – tiba dan dia melihatku heran.
“Adik, kok sendirian?”
Matahari melihatku kebingungan.
Aku mendengus sebal, “Enak
aja bilang adik, namaku Hana, dan aku bukan adikmu.”
Matahari menggaruk kepalanya yang tidak
gatal, “Kamu nyasar ya? Rumahmu dimana? Sini ku antar pulang.” Aku tersenyum
sambil mengarahkan jari telunjukku ke Jidat matahari yang tinggi.
“Itu rumahku, kalau dia
nggak bersinar nanti aku enggak bisa fotosintesis, meskipun aku enggak punya
klorofil dan enggak menghasilkan C6H12O6 .”
ucapku sambil mengembungkan pipi, kulangkahkan kaki sambil berlari menuju antah
berantah dan angin bergerak cepat mengganti suasana menjadi padang ilalang.
Matahari mengedarkan
pandangan tak percaya, matanya menatapku heran.
“Dasar manusia dewasa.”aku
mendengus. “ mentang – mentang udah bisa berlarian tanpa tersandung kaki sendiri,
seenaknya menjatuhkan diri ke perut bumi.” Matahari memiringkan kepalanya
bingung. “ Kamu lupa sepertinya, dulu, saat kamu pertama kali diutus untuk
turun ke Bumi oleh sang pencipta, beliau meniupkan mantra berisi nama kepadamu,
mantra itu mengikatmu untuk tetap jadi dirimu sendiri, agar kamu tetap bisa
hidup sesuai dengan arti namamu dan jalan hidupmu.” Aku menjentikkan jari kearah langit. “Jadi
bersinarlah seperti matahari yang dulu.”
Mengoceh panjang lebar
dengan manusia dewasa menjadikanku mengantuk, jadi aku memilih untuk memutar
badan dan menghilang namun Matahari yang kebingungan menarik tanganku.
“Hana, sebenarnya kamu
siapa?”
Aku menguap bosan sambil mengucek – ucek mata. “well, orang bilang aku changeling,
hantu, grim reaper, tapi sebenarnya
aku elf – peri bunga.” Aku menarik
tanganku dan melambaikannya, seraya menghilang bersama desiran angin dan
meninggalkan Matahari yang kebingungan kembali ke habitatnya.
-if you want to know his real name,
let’s find the “Matahari” phrase in Sanskrit language :)